Sebanyak 1.301 Warga Probolinggo Terjangkit DBD, 8 Meninggal
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Probolinggo. Terbukti sejak awal tahun 2025 hingga pekan pertama Oktober, sebanyak 1.301 warga dilaporkan terjangkit DBD. Delapan di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
"Hal ini ini menunjukkan bahwa penyebaran penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti ini masih tergolong tinggi," kata Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr. Nina Kartika, Jumat, 17 Oktober 2025.
Dokter Nina meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap nyamuk Aedes aegypti. Sebab nyamuk tersebut bisa berkembang di sembarang musim, musim hujan maupun musim kemarau.
“Dari Januari hingga Sabtu, tanggal 4 Oktober lalu, ditemukan 1.301 kasus dan delapan di antara penderita meninggal dunia,” katanya.
Dikatakan, selama ini masyarakat cenderung mengaitkan penyakit DBD dengan datangnya musim hujan. Padahal, di musim kemarau pun potensi penyebaran penyakit ini tetap tinggi.
Hal itu karena masih ada hujan di beberapa wilayah meskipun tidak terjadi setiap hari. Genangan air yang muncul sesaat setelah hujan justru menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak.
“Meski hujan turun tidak setiap hari, biasanya air tergenang dalam waktu lama. Nah, kondisi seperti itu justru mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti,” ucapnya.
Dokter Nina menambahkan, dari total kasus yang ditemukan, terdapat "lima besar" kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang menjadi perhatian serius karena jumlah penderita DBD paling menonjol.
Ranking pertama diduduki Kecamatan Kraksaan dengan 169 kasus. Disusul Paiton dengan 134 kasus, Krejengan 91 kasus, Maron 72 kasus, dan Kecamatan Lumbang sebanyak 66 kasus.
Lima kecamatan tersebut menjadi atensi utama Dinkes setempat karena temuan kasus DBD-nya cukup tinggi. Dinkes pun tidak tinggal diam. Selain melakukan penanganan medis terhadap pasien yang terjangkit, Dinkes juga menggencarkan langkah-langkah pencegahan melalui kerja sama dengan seluruh puskesmas Probolinggo.
Setiap puskesmas, kata dr. Nina, diinstruksikan untuk secara rutin melakukan pemeriksaan lingkungan sekitar terutama di daerah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pun digencarkan, yang difokuskan pada wilayah permukiman padat penduduk. Juga dilakukan penyemprotan (fogging) di sarang nyamuk.
“Upaya pemberantasan jentik nyamuk tidak bisa hanya dilakukan petugas kesehatan. Masyarakat juga harus aktif berperan menjaga kebersihan lingkungan,” pungkas Dokter Nina.
Advertisement