Kisah Tasori, Tukang Servis Sepeda di Jakarta yang Setia Menjalankan Wasiat Ayah
Tasori, perantau asal Tegal, Jawa Tengah, telah menghabiskan lebih dari separuh usianya sebagai tukang servis sepeda di Jakarta. Meski usianya kini menginjak 70 tahun dan penghasilan semakin menurun akibat dominasi sepeda motor, ia tetap teguh mempertahankan pekerjaan lamanya sebagai tukang sepeda ontel.
Bapak lima anak itu mengaku memiliki alasan kuat mengapa tidak beralih ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Ia merasa harus menjalankan wasiat ayahnya.
"Sebelum meninggal, Bapak berpesan agar saya meneruskan pekerjaannya sebagai tukang sepeda. Tidak boleh bekerja ikut orang," ujar Tasori.
Pernah Bekerja di Bengkel Motor, Namun Hatinya Tetap ke Sepeda
Sebelum mewarisi pekerjaan sang ayah, Tasori sempat bekerja di sebuah bengkel motor di kawasan Roxy, Jakarta. Gajinya lebih besar, pekerjaannya lebih modern, dan pengalamannya cepat bertambah. Namun pergulatan batin membuatnya bimbang: tetap bekerja di bengkel motor atau melanjutkan pekerjaan keluarga.
Akhirnya ia memilih menjalankan pesan ayahnya.
"Dengan Bismillah, saya teruskan pekerjaan Bapak sebagai tukang servis sepeda. Takut kualat," tuturnya.
Sekitar 35 tahun lalu, pekerjaan itu masih cukup menjanjikan. Pengguna sepeda masih banyak, sehingga setiap hari selalu ada yang datang ganti rantai, ganti ban, rem blong, ban bocor, hingga sekadar menambah angin.
"Waktu itu sehari Rp200 ribu sampai Rp300 ribu dapat," kenangnya.
Pindah-Pindah Lokasi Mencari Tempat yang Ramai
Kini masa kejayaan itu sudah berlalu. Pengguna sepeda semakin sedikit, digantikan kendaraan bermotor. Bengkel kecilnya yang berada di Jalan Swadaya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, kini sepi.
"Yang datang bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan sepeda anak-anak atau cuma tambah angin. Untuk dapat Rp75 ribu, saya harus nunggu sampai magrib, itu pun belum tentu dapat," ujarnya.
Ia memasang tarif:
Tambal ban sepeda: Rp5.000
Tambal ban motor: Rp10.000 per lubang
Tambah angin: Rp2.000–Rp5.000, seikhlasnya
Menolak Berbuat Curang Meski Penghasilan Minim
Tasori mengaku sering mendengar cerita ada tukang tambal ban yang curang, seperti menusuk ban pelanggan sendiri atau menebar paku di jalan. Namun ia tidak mau mengambil jalan itu.
"Saya tidak ingin mencari uang dengan menyengsarakan orang lain," tegasnya.
Sebelum menempati lokasi saat ini yang berada di dekat jembatan Jalan Swadaya, ia sudah lima kali pindah lokasi. Selain karena penertiban Satpol PP, ia juga mencari tempat yang lebih ramai agar bisa mendapat penghasilan layak.
Tetap Bahagia Meski Hidup Pas-pasan
Meskipun penghasilannya kini pas-pasan, Tasori mengaku tetap bahagia karena bisa menjalankan amanah ayahnya hingga hari ini. Ada satu pesan lain yang selalu ia pegang teguh:
Setiap hari Jumat, bengkel harus tutup. Ayahnya mengajarkan bahwa hari tersebut harus didedikasikan untuk menunaikan Salat Jumat dengan khusyuk.
Advertisement