Layanan Air Bersih di Sidoarjo, Dorong Optimalisasi IPA Tawangsari
Upaya memperluas layanan air bersih di Kabupaten Sidoarjo terus dipacu dengan memaksimalkan potensi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tawangsari. Fasilitas ini dinilai strategis karena memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 850 liter per detik, menjadikannya salah satu sumber utama penyediaan air minum di wilayah tersebut.
Fokus pengembangan IPA Tawangsari tidak hanya pada peningkatan kapasitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan air baku. Sungai Pelayaran yang menjadi sumber utama disebut memiliki kualitas air yang relatif lebih jernih dibandingkan sumber lain, sehingga dinilai layak dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menegaskan pentingnya pengelolaan debit air, terutama saat musim kemarau. Menurutnya, tantangan utama bukan pada potensi sumber air, melainkan pada konsistensi pasokan yang kerap menurun saat kondisi cuaca ekstrem.
“Potensinya besar, tinggal bagaimana menjaga debit air tetap stabil, khususnya saat kemarau,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti peran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dalam mengatur pintu air agar distribusi tetap optimal. Perbaikan infrastruktur seperti plengsengan yang mengalami kerusakan juga menjadi perhatian, guna mencegah kebocoran dan kehilangan air.
Di tingkat daerah, dorongan peningkatan layanan air minum juga datang dari DPRD Sidoarjo. Anggota Komisi B, Supriyono, menyebut cakupan layanan air bersih saat ini masih berada di kisaran 37 persen. Ia menargetkan peningkatan hingga 50 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, pencapaian target tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari dukungan anggaran, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga intervensi kebijakan dari pemerintah pusat.
“Tidak cukup hanya membangun infrastruktur, tapi juga harus diimbangi dengan kesiapan SDM dan dukungan anggaran yang memadai,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian penggunaan air tanah oleh sektor industri. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penurunan muka tanah sekaligus mendorong peralihan penggunaan air ke layanan perpipaan.
Sementara itu, PDAM Delta Tirta Sidoarjo mulai mengambil langkah konkret untuk memperluas jaringan layanan. Direktur Operasional, Syaifudin, menyebut adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui anggaran APBD, termasuk program pemasangan sekitar seribu sambungan rumah baru pada tahun ini.
“Kami optimistis cakupan layanan bisa meningkat, apalagi dengan dukungan anggaran yang terus didorong,” ujarnya.
PDAM juga membuka peluang kerja sama dengan investor guna mempercepat pengembangan jaringan distribusi air minum di berbagai wilayah.
Advertisement