Yusak Anshori, Guru Besar Pertama UNUSA Non-Naturalisasi
Ini profesor sungguhan. Bukan Propesor alias Protolan Pemuda Ansor. Plesetan yang sering muncul di kalangan warga Nahdliyin. Dia adalah Prof. Dr. Drs. Mohamad Yusak Anshori MM.
Ia menjadi guru besar pertama produk Universitas NU Surabaya (UNUSA). Asli. Bukan hasil naturalisasi. Artinya bukan profesor yang dibajak dari perguruan tinggi lainnya.
Pengukuhan guru besar bidang manajemen Yusak Anshori ini berlangsung di Kampus Unusa Jemursari Surabaya, Sabtu (14 Februari 2026). Dalam Rapat Senat Terbuka yang dipimpin Rektor UNUSA Prof. Dr. Ir Triyogi Yuwono.Β Dihadiri banyak tokoh dan kolega.
Tak pelak, lahirnya profesor baru Unusa pertama ini membuat bangga Ketua Yayasan Prof Dr Muhammad Nuh. βSekali lagi, ini bagian dari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,β katanya.
Ya. UNUSA memang perguruan tinggi baru. Berdiri 2 Juli 2013. Berarti baru 13 tahun. Tapi prestasinya sudah melebihi usianya. Punya Fakultas Kedokteran. Hampir 80 persen program studi sudah terakreditasi unggul. Demikian juga fakultasnya.
Punya dua rumah sakit di bawah yayasan yang sama: Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis). Yang juga dipimpin M Nuh. Guru besar ITS yang pernah menjadi Menteri Kominfo dan Mendikbud. Di era Presiden SBY.
Banyak sekali perguruan tinggi swasta yang tak bisa melahirkan guru besar. Bahkan ada yang sudah puluhan tahun sejak berdiri. Kebanyakan mereka menaturalisasi guru besar yang sudah pensiun dari perguruan tinggi negeri.
Yusak bukan guru besar biasa. Ia adalah seorang profesional handal. Kini menjadi Direktur Utama perusahaan perhotelan. Karirnya dibangun dari bawah. Mulai dari Hotel Radisson di Jogjakarta.
Pria lulusan Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM ini terus berkarir di Surabaya. Menjadi General Manager Surabaya Prime Plaza. Kini masih mengelola PrimeBiz Hotel di kota yang sama.
Sempat mengajar di berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Mulai dari Universitas Ciputra (UC) sampai pasca sarjana di Unair dan ITS. Bahkan sempat jadi dekan di UC. Kini, ia iuga menjadi Wakil Rektor di UNUSA. Belum lama.
Ketika masih menjadi dosen di Universitas Ciputra, ada yang bergurau. ββNamanya Ansori kok mengajar di UC. Mestinya di Universitas NU.ββ Sebab Ansori identik dengan Ansor, organisasi kepemudaan Ormas Islam terbesar di Indonesia ini.
Pria kelahiran Kediri ini juga aktif dalam ikut membangun pariwisata Surabaya. Ia menjadi kepala Surabaya Tourism & Promotion Board saat saya menjadi sesuatu di Pemerintah Kota Surabaya.
Banyak legacy yang ditinggalkan saat ikut membantu pembangunan pariwisata Surabaya. Mulai dari city branding Sparkling Surabaya sampai dengan konsep pariwisata Surabaya yang sempat moncer di zamannya.
Sungguh jarang seorang profesional sukses yang menjadi guru besar. Apalagi kedua bidang profesional dan akademik itu dijalankan secara bersamaan. Ia adalah sedikit dari guru besar yang juga manajer hebat.
Rajin menulis buku dan jurnal ilmiah. Sudah 32 judul buku diterbitkan. Ada yang ditulis sendiri dan ada yang bersama orang lain. Kini, bersama saya dan Sekretaris LPTNU Dr Faishal Aminudin akan menerbitkan buku tentang gerakan sosial-ekonomi NU.
Pidato ilmiahnya menarik. Tentang manajemen. Judulnya: Soft Brain Engineer: Rekonstruksi Ilmu Manajemen untuk Membangun Kecerdasan Organisasi di Era Disrupsi. Jelas ini sesuatu yang baru di ilmu manajemen.
Ia memperkenalkan paradigma baru dalam ilmu manajemen yang tak hanya fokus pada struktur organisasi, sistem, dan teknologi. Tapi lebih pada kecerdasan manusia di dalam organisasi. Bagaimana otak, emosi, dan kognisi bekerja dan berkontribusi terhadap performa organisasi.
Paradigma itu dibangun dengan mengintegrasikan neurosains (ilmu otak), psikologi, dan teori manajemen untuk menciptakan pendekatan yang lebih dalam dan holistik. Dengan demikian, ilmu manajemen tak hanya mengasah soft skill.
Baginya, manajemen lama terlalu mekanistik. Hanya fokus pada efesiensi, kontrol, dan standarisasi. ββIni cocok untuk era industrialisasi tapi kurang memadai untuk organisasi modern yang komplek dan berbasis manusia,ββ tuturnya.
Dalam pengamatannya, organisasi modern memang menghasilkan produktifitas yang meningkat. Tapi semua itu diikuti dengan kelelahan yang meningkat. Sehingga sistem kerja seringkali menggerus kondisi psikologis manusia.
ββDalam organisasi modern, kita berhasil membangun sistem yang efisien, tapi lupa menjaga kesehatan mental manusia di dalamnya,ββ kata guru besar dengan dua orang anak ini.
Situasi tersebut ditambah dengan adanya era Artificial Intelegent yang membuat otak manusia kelebihan beban. Ditambah algoritma yang makin rumit sehingga keputusan makin kompleks. Buntutnya banyak pekerja mengalami stres dan lelah.
Masalah organisasi hari ini, bagi Yusak, bukan karena kekurangan sistem. Tapi kekurangan kesadaran manusia. Teknologi telah berkembang cepat. Tapi kapasitas mental dan emosional manusia tak ikut meningkat.
Karena itu, ia menawarkan daya tawar mengatasi hal ini. Apa itu? Organisasi yang sepenuhnya menerima dan melibatkan pekerjanya. Penawarnya bukan hanya mengurangi beban kerja. Tapi membangun hubungan dan makna.
Yusak juga menawarkan pergeseran paradigma dalam manajemen. Dari paradigma human capital ke neuro-psychological capital. Paradigma baru yang lebih fokus pada kapasitas kognitif dan emosional ketimbang ketrampilan teknis. Penilaian berbasis adaptabilitas dan wellbeing ketimbang output.
Juga menjadikan manusia sebagai pusat kecerdasan organisasi ketimbang sekadar aset produksi. ββYang menentukan masa depan bukan hanya skill teknis. Tapi kualitas kesadaran dan karakter,ββ tegasnya.
Ia lantas mengajak semua menjadi softbrain engineer. Juga menjadikan paradigma barunya dalam manajemen ini masuk ke dalam sistem organisasi. Baik itu pelatihan, budaya, dan kebijakan SDM.
ββDi dunia pendidikan, paradigma ini mengharuskan kita untuk melakukan transformasi. Dari sekadar transfer ilmu menjadi pembentukan karekter neuro-psikologis yang tangguh,ββ tambahnya.
Pemikiran baru Yusak ini bergayung sambut dengan Rektor Triyogi. Dalam sambutannya, ia melihat pemikiran Yusak ini sebagai instrumen praktis bagi transformasi di universitas yang dipimpinnya. Sebab, ia tak ingin mencetak lulusan yang hanya unggul secara teknis tapi rapuh secara mental.
Yang pasti, Yusak tak hanya mencetakΒ sejarah bagi orang tuanya yang memberinya nama Ansori. Tapi juga bagian sejarah dari UNUSA yang belum sampai satu setengah dekade berdiri. Menjadi orang pertama orang dalam yang mencapai puncak jabatan akademik tertinggi.
Ia telah berhasil menjadi guru besar di kampus itu. Bukan sekadar guru besar naturalisasi.
Advertisement