Galau Arsenal: Mimpi Double Winner Liga Inggris dan Liga Champions di Era Arteta
Memang belum benar-benar menjadi kenyataan. Mimpi Arsenal memenangi dua liga bergengsi di Eropa. Liga Primer Inggris dan Liga Champions. Mimpi indah The Gunners tahun ini. Di bawah asuhan Mikel Arteta.
Tapi dengan kemenangan tipis di laga tandang melawan West Ham United minggu malam, mimpi itu mendekati kenyataan. Ia tinggal menyelesaikan dua laga kandang dan tandang: lawan Burnley dan Crystal Palace.
Jika di dua laga itu bisa disapunya dengan kemenangan, jelas tropi juara sudah pasti nyata. Sebab, jika Manchester City memenangkan tiga laga sisa pun, ia tak akan bisa mengejar poin yang diraih Arsenal.
Kecuali dua laga terakhir itu ada yang kalah atau satu seri. Sementara The Citizens menang di semua laga sisa. Bila ini yang terjadi, Halland Cs bisa mengoleksi 83 point. Jika laga berikutnya ada yang kalah atau seri, Arsenal hanya mengoleksi 82 atau 83 poin.
Sedangkan tropi Champions tinggal selangkah lagi. Kalau babak final di Budapest Arsenal bisa berhasil mengalahkan Paris Saint Germain (PSG), sejarah baru akan ditorehkan. Arsenal akan merengkuh double winner kompetisi bergengsi Eropa.
Saya tidak pernah menjadi pendukung fanatik klub bola Inggris. Namun, sejak dulu, saya selalu mencintai Arsenal sekaligus mengagumi Manchester City. Tidak tahu kenapa bisa demikian. Yang pasti ini semacam cinta segitiga yang direstui.
Saya mencintai Arsenal karena cara bermain dan estetikanya. Mulanya tentang keberanian Arsenal mengusung para pemain muda. Di bawah Arsene Wenger. Ketika bola diperlakukan dengan kelembutan. Bukan sekadar ditendang menuju kemenangan.
Generasi saya tumbuh bersama Arsenal yang romantik. Arsenal yang membuat sepak bola terasa seperti puisi sore hari yang dibaca di tengah sawah dengan iringan seruling. Thierry Henry berlari seperti angin yang tahu arah pulang.
Dennis Bergkamp menyentuh bola seperti seniman memegang kuas. Semua di bawah komando Wenger yang membangun keyakinan bahwa sepak bola menyerang bukan cuma mungkin, tetapi juga bermartabat.
Lalu datanglah tahun-tahun panjang yang melelahkan. Arsenal menjadi tim penyandang selalu hampir. Hampir juara. Hampir bangkit. Hampir kembali menjadi besar. Emirates Stadium yang megah seperti simbol kompromi: klub besar yang menahan diri demi bertahan hidup.
Sedangkan Manchester City di bawah Pep Guardiola datang sebagai masa depan baru sepak bola modern. Mesin kemenangan yang dibangun dengan presisi industri. Memberi warna baru ketatnya persaingan antar klub di Inggris setiap musim kompetisi.
Guardiola mengubah sepak bola menjadi laboratorium ide. Bahkan bagi banyak penggemar Arsenal, termasuk saya, City menawarkan bentuk kekaguman lain. Apa itu? Sepak bola yang nyaris sempurna secara taktik.
Ini bikin galau saya setiap saat. Mencintai Arsenal karena sejarah emosionalnya. Tapi mengagumi City karena kecerdasannya. Dua cinta berbeda watak. Arsenal adalah nostalgia dan identitas. City adalah kekaguman intelektual si bola sepak.
Kini Mikel Arteta sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar trofi juara. Ia sedang mempertemukan dua dunia itu. Arteta seperti anak yang lahir dari dua peradaban sepak bola.
Ia mewarisi romantisme Wengerian. Tapi juga disiplin struktural Guardiola dari City. Dalam tim Arsenal sekarang, kita melihat keberanian menyerang yang dulu membuat Highbury dicintai. Tapi juga organisasi permainan modern yang dingin dan efektif.
Declan Rice menjadi jangkar yang kokoh sekaligus elegan. Martin Odegaard bermain seperti konduktor orkestra Skandinavia yang terlalu cerdas untuk sepak bola. Bukayo Saka memberi harapan generasi baru: sosok muda, santun, tetapi mematikan.
Ditambah lagi pertahanan The Gunners kini tak rapuh seperti di masa lalu. Semuanya itu menjadikan mimpi yang lama terasa utopis mulai tampak realistis. Double winner Liga Inggris dan Liga Champions tiba-tiba ada di depan mata.
Bila betul-betul double winner ini jadi kenyataan, ini bukan sekadar prestasi bagi Arsenal. Tapi sejarah baru. Kenapa? Karena Arsenal belum pernah menjuarai Liga Champions. Belum pernah mencetakkan diri sebagai digdaya Eropa.
Klub yang berbasis di London Utara ini selalu memiliki ironi aneh. Ia dicintai dunia, tetapi belum pernah duduk di takhta Eropa. Jika tahun ini bisa direngkuhnya, Arteta bukan hanya pelatih sukses. Ia akan menjadi arsitek peradaban baru Arsenal.
Bisa disimpulkan bahwa generasi Wenger memberi Arsenal identitas. Generasi Arteta bisa jadi memberi mereka supremasi. Mantan asisten Guardiola di City ini bisa menjadikan kebanggaan baru bagi warga Inggris. Khususnya pelanggan tribun Emirates Stadium.
Saat menonton drama mendebarkan laga Arsenal lawan West Ham diam-diam saya merasa bersalah. Merasa menyesal. Mengapa ketika saya berkunjung ke London di tahun 2023, hanya menonton kemegahan home base Arsenal dari pelatarannya.
Padahal, saat itu, saya sempat menonton Manchester City melawan Liverpool. Atmosfernya luar biasa. Stadion Etihad penuh energi modern sepak bola Inggris: cepat, keras, presisi. Tetapi entah mengapa, saya tidak menyempatkan diri masuk ke Emirates Stadium?
Padahal saya tahu, Arsenal bukan sekadar klub yang saya suka. Ia bagian dari lanskap emosional masa muda. Ada cinta jarak jauh di sana. Ada malam-malam begadang. Ada frustrasi. Ada harapan yang berkali-kali patah.
Penyesalan itu tumbuh lagi ketika Arsenal berdiri di ambang sejarah. Saya membayangkan duduk di tribun Emirates. Melihat rumput hijau London Utara. Mendengar lagu North London Forever dinyanyikan. Menyadari stadion itu bukan cuma arena olahraga. Tapi museum tentang kesetiaan.
Pada akhirnya, sepak bola bukan tentang memilih siapa yang paling kuat. Tetapi tentang klub mana yang diam-diam ikut membentuk diri kita. Itu sebabnya setiap kemenangan Arsenal musim ini terasa begitu emosional bagi banyak orang.
Sekarang Arsenal bukan sekadar klub yang sedang hebat. Penjaga gawang David Raya dan kawan-kawannya adalah simbol tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.Β Setelah terlalu lama tersesat.
Dan bila benar Arsenal akhirnya mengangkat tropi Premier League sekaligus Liga Champions musim ini, maka dunia akan menyaksikan sesuatu yang lebih indah daripada kemenangan. Apa itu? Lahirnya kembali sebuah keyakinan.
Artetaβ¦jangan buat patah hati fans Arsenal di dua laga sisa Liga Primer. Juga di laga final Champions mendatang. Biar semakin kuat lagi mimpi saya kembali ke London Utara untuk bisa nribun di Emirates Stadium.
Advertisement