Bengawan Solo di Bojonegoro Jadi Lokasi Favorit Warga Saksikan Gerhana Bulan Total
Sejumlah titik di sepanjang Sungai Bengawan Solo yang melintas di Kabupaten Bojonegoro menjadi lokasi strategis untuk menyaksikan Gerhana Bulan Total (GBT), Selasa malam, 3 Maret 2026. Area bantaran sungai yang terbuka dan minim penghalang membuat warga leluasa menikmati fenomena langit tersebut.
Di Kecamatan Kota Bojonegoro, terdapat tiga jembatan favorit warga, yakni Jembatan Sosrodilogo dan Jembatan Kaliketek yang menghubungkan Kecamatan Bojonegoro Kota dengan Kecamatan Trucuk, serta Jembatan Glendeng yang menghubungkan Kabupaten Bojonegoro dengan Kabupaten Tuban.
Selain itu, beberapa jembatan lain yang melintang di Sungai Bengawan Solo juga menjadi alternatif lokasi pengamatan, seperti Jembatan Padangan yang menghubungkan Bojonegoro dengan Cepu, Blora (Jawa Tengah), Jembatan Malo yang menghubungkan Kecamatan Gayam dan Kalitidu dengan Kecamatan Malo, serta Jembatan KanorβRengel (Kare) yang menjadi akses penting dari arah timur menuju Bojonegoro atau Tuban.
Warga Antusias Usai Tarawih
Ahmad,49, tahun, warga Klangon, Bojonegoro, mengaku dirinya bersama keluarga berencana menyaksikan gerhana di sekitar Jembatan Sosrodilogo. βMungkin setelah salat tarawih, warga akan melihat gerhana bulan,β ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, lokasi jembatan yang berada di pusat kota dan memiliki pandangan terbuka ke arah timur sangat cocok untuk mengamati gerhana bulan.
BMKG: Gerhana Bulan Total Berlangsung 5 Jam 41 Menit
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Gerhana Bulan Total terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, dan dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia jika kondisi cuaca cerah.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan gerhana bulan terjadi akibat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sejajar saat fase purnama. Pada fase totalitas, Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
βJika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi,β ujar Nelly di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Secara keseluruhan, durasi gerhana berlangsung selama 5 jam 41 menit 51 detik, dengan durasi parsialitas selama 3 jam 27 menit 47 detik. Sementara fase totalitas berlangsung selama 59 menit 27 detik.
Warna merah pada Bulan saat puncak gerhana terjadi akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya biru tersebar dan cahaya merah tetap mencapai permukaan Bulan.
Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan gerhana dimulai pukul 18.03.56 WIB dan mencapai puncak pada pukul 18.33.39 WIB (19.33.39 WITA dan 20.33.39 WIT). Fenomena ini sepenuhnya berakhir pada pukul 21.24 WIB saat Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi.
BMKG mengimbau masyarakat memilih lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan terbuka ke arah terbitnya Bulan, seperti di sepanjang Bengawan Solo.
Satu-satunya Gerhana yang Terlihat di Indonesia Tahun 2026
Tahun 2026 diprediksi terjadi empat kali gerhana, yakni dua gerhana Matahari dan dua gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.
Secara astronomis, gerhana ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota dalam seri Saros 133. Fenomena serupa sebelumnya terjadi pada 21 Februari 2008 dan diperkirakan kembali terjadi pada 13 Maret 2044.
Dengan kondisi langit yang mendukung, kawasan Bengawan Solo di Bojonegoro diprediksi menjadi salah satu titik terbaik untuk menikmati keindahan βBulan Merahβ malam ini.
Advertisement